banner image

Begitu ringan tertiup angin

Kini, hampir setiap sore, pemilik rumah kontrakan yang kutinggali menyapu latar rumah. Pertama kali ia hendak menyapu, ia mengetuk pintu berkali-kali. Akhir-akhir ini banyak yang mengetuk pintu untuk meminta air. Di sekitarku, hanya kontrakanku yang ada kran di depan rumah. Mereka mengambil air dari kran itu. Aku tak ada alasan untuk melarang mereka, sekalipun tagihan listrik membengkak. Pokoknya, kalau aku menyalakan "sanyo", silakan nyalakan kran di teras itu, sampai bak kamar mandiku penuh, lalu kumatikan lagi. Aku ini tidak lebih dari anak kos: harus hemat. Maka, aku mulai malas membuka pintu jika diketuk orang.


Hidup itu kadangkala punya keanehan yang terus berulang. Apa yang diharapkan dan dinanti-nanti, seringkali justru tidak pernah datang. Tetapi apa yang tidak dinanti-nanti dan tidak dikejar, dia datang. Berapa kali sudah aku naksir cewek, tapi yang ditaksir malah "not responding" - shut-down aja nek gitu. Tapi justru yang tidak kutaksir dateng. Kadang justru lebih cantik, tp kadang juga bukan tipeku. Tetapi perasaan itu begitu ringan. Begitu cepat terbang dan melayang ke sana ke mari tertiup angin.

Rasanya, memang lebih menyenangkan mengerjakan tesis di perpus atau di kampus, pusing karena banyak data yang corrupt dan missing, daripada menuruti perasaan-perasaan yang tidak teratur. Soal jodoh, aku masih sangat percaya bahwa aku akan mendapatkan yang terbaik. Rahmat Tuhan itu pun terus berulang; yaitu bahwa aku selalu mendapatkan yang terbaik.

Sudah dua minggu kutinggalkan tesisku. Rasanya hatiku yang begitu ringan tertiup angin kini harus digantikan dengan logika, rasio, dan kehendak untuk memperjuangkan harga diriku, yang lebih kuat daripada angin manapun. Semangatku akan berhembus lebih kuat daripada angin, dan menghempas lebih kuat daripada ombak. 

Mulai besok pagi, tugas perasaan digantikan dengan dua daya jiwa yang lain. Perasaan sudah terlalu lemah, sebagai daya jiwa yang paling rapuh di antara kedua lainnya (pikiran dan kehendak). Hapus perasaan-perasaan dan keinginan yang tidak teratur. Mulai hidup dengan rasional, seperti saat-saat dulu, aku menyelesaikan tesisku dalam satu minggu. Tuhan sudah memberiku sesuatu, dan Ia akan mengantarkannya kepadaku.

When people walk out of your life, let them. You might miss them, but remember that you're not the one that gave up ♥
Begitu ringan tertiup angin Begitu ringan tertiup angin Reviewed by Afrianto Budi on Rabu, November 02, 2011 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Terimakasih Anda sudah mengunjungi blog ini

Diberdayakan oleh Blogger.