banner image

Fly Away

Fly Away Home...
Itulah film yang baru selesai kutonton. Intinya, seorang gadis muda yang merawat burung-burung angsa sejak masih telur hingga dewasa. Ketika burung-burung itu dewasa, ia harus membawanya ke tempat di mana burung-burung itu harus melakukan migrasi. Dengan semacam fly-over, ayahnya dan dia memutuskan untuk mengantarkan burung-burung itu ke tempat di mana burung-burung angsa itu seharusnya berada.

Di luar film itu, aku sebenarnya merefleksikan diriku. Tuhan bisa digambarkan sepergi gadis muda yang membawa burung-burung itu kembali ke tempat di mana ia seharusnya berada. Manusia juga seperti burung itu. Dengan segala cara, Tuhan menghantarkan anak-anak-Nya menuju tempatnya masing-masing. Dengan segala pengalaman yang tak dapat dimengerti, Tuhan akan membawa ke tempat yang Ia kehendaki.

Pagi kemarin aku dikagetkan dengan musik requiem yang terdengar sangat keras.
Ternyata ada salah seorang tetanggaku yang meninggal. Jarak rumahnya hanya dua meter dari rumah kontrakanku. Dengan segera aku mandi dan aku menuju rumah itu. Untuk waktu yang lama aku berdoa di depan jenazah itu --- dan aku terus saja mengingat wajah itu karena aku merasa aku belum pernah mengenalnya.

Dua puluh menit berlalu. Aku berpamitan dengan keluarga itu, lalu aku pergi ke kampus untuk menyerahkan tesis bab III dan IV-ku (semoga langsung ACC, dengan catatan kecil tak masalah buatku). Sebentar saja aku menemui bu Sukma, lalu aku duduk di depan kampus. Tidak lama kemudian, aku ke kampus INSTIPER untuk mengajar. Hmm, soal mengajar, aku merasa bahwa mereka adalah teman-temanku, lebih dari sekedar mahasiswaku. Aku pun lebih berbicara tentang moral daripada agama. Percuma khan orang beragama tapi tak bermoral. Lima kali berturut-turut diskusi tentang aborsi, perceraian, poligami, kekerasan atas nama agama, dan korupsi menjadi lima diskusi yang menarik bersama mereka. Itu mengajar yang menyenangkan.

Aku tak tahu bagaimana masa depanku. Sekarang aku kuliah, aku juga ngajar, aku juga kumpul-kumpul bareng temen2 FKMKKP, dan itu sangat menyenangkan. Tapi yang menyenangkan bukan berarti akan selalu aku alami sampai akhir. Seperti burung itu, ini hanya tempat persinggahanku. Aku berharap masa depanku cerah, tapi aku tak berharap bahwa aku dengan cepan akan berhenti dan tidak melakukan perjalanan yang mengasyikkan ini. Tuhan tahu, namun aku tak ingin cepat-cepat tahu. Biarlah aku menikmati perjalanan ini, seperti burung-burung angsa yang bermigrasi pada waktunya dan meraih kebahagiaan di sana.

Tuhan memberkati.


Fly Away Fly Away Reviewed by Afrianto Budi on Kamis, November 17, 2011 Rating: 5

1 komentar:

Terimakasih Anda sudah mengunjungi blog ini

Diberdayakan oleh Blogger.