banner image

Al Ghazali, Sufisme, dan Teologi

Oleh: Afrianto Budi Purnomo
I. Pendahuluan

Kemajuan Islam pada masa kejayaannya ditandai oleh pesatnya perkembangan pemikiran Islam yang meliputi bidang teologi, filsafat, dan sufisme. Pemikiran-pemikiran dari para tokoh Islam mewarnai perkembangan Islam pada masanya, bahkan pengaruhnya tetap terasa sampai abad modern. Al-Ghazali (1058-1111 M) merupakan salah seorang pemikir Islam yang muncul ketika Islam mengalami puncak perkembangannya. Petualangannya dalam mencapai kebenaran pengetahuan tentang Islam telah memasukkan dirinya dalam ketiga bidang tersebut. Ia merupakan pemikir Islam yang kreatif yang mampu memadukan berbagai pemikiran dalam suatu corak yang bisa diterima umat
[1].
Salah satu karakteristik unik teologi Al-Ghazali adalah adanya doktrin yang menegaskan bahwa kebenaran akidah yang dipercayai seorang mukmin dapat dihayati melalui pengalaman batin
[2]. Melalui pengalaman batin, keyakinan akan kebenaran akan mencapai tingkat tertinggi, yang tidak tergoyahkan oleh intimidasi apapun. Keyakinan tersebut hanya bisa diperoleh lewat kalbu, melalui intuisi, setelah seorang mukmin menjalai suatu metode tertentu. Metode tersebut ialah sufisme, metode yang pernah dijalankan oleh al-Ghazali sendiri, sehingga hasilnya betul-betul merupakan pengalaman al-Ghazali sendiri yang kemudian dituangkannya dalam suatu konsepsi dalam teologinya.
Dalam paper ini akan dibahas tiga masalah pokok yang berkaitan dengan eskistensi sufisme dalam teologi al-Ghazali yaitu bagaimana pandangannya mengenai sufisme dan kaitannya dengan teologi; bagaimana wujud sufisme yang ditawarkan al-Ghazali sebagai metode dalam teologinya; dan bagaimana hasil yang diberikan sufisme dalam peningkatan iman seorang mukmin.

II. Sufisme dan Al-Ghazali

Istilah sufisme memiliki padanan kata dengan istilah tasawwuf. Ada beberapa pengertian tasawwuf. Sebagian orang berpendapat bahwa kata tasawwuf diambil dari kata ashshuf yang berarti bulu domba karena orang-orang tasawwuf itu pada umumnya mengkhususkan dirinya dengan pakaian yang berasal dari bulu domba. Sufi sendiri yang sepadan dengan kata tasawwuf diambil dari perkataan ash shofa, artinya suci dan berhati-hati dari larangan Allah. Kata lain yang bisa mengartikan hal itu adalah Shaffah, yaitu sekelompok orang yang segolongan dengan sahabat-sahabat nabi saw yang menyisihkan dirinya di dalam suatu tempat yang terpencil di samping masjid Nabi, yaitu serambi Masjid Nabawi di Madinah, yang ditempati oleh orang-orang fakir dari golongan Muhajirin dan Anshar
[3]. Pekembangan sufisme dalam islam dipengaruhi oleh beberapa hal.
Sejak abad ke-2 H (8 M), sufisme (tasawwuf) sudah muncul sebagai salah satu cabang ilmu dalam islam. Ada berbagai tarekat sufi besar antara lain: Tarekat Qadariyyah, Tarekat Naqsyabandiyyah, dan tarekat Chistiyyah
[4]. Maka, sebelum al-Ghazali telah lahir sejumlah sufi yang mengembangkan sufisme. Al-Ghazali sendiri lahir dan dibesarkan oleh keluarga yang berkecenderungan hidup sufistik. Pengetahuannya akan sufisme dipelajari dari beberapa orang guru. Ia pun menguasai beberapa literatur sufisme yang dihasilkan oleh beberapa tokoh sufisme. Karenanya, pengetahuannya di bidang sufisme cukup mendalam dan suasana kehidupan sufi cukup kuat melingkari kehidupannya pada masa kanak-kanak.
Pada usia 38 tahun, al-Ghazali mulai menjalani praktek kehidupan sufi hingga wafatnya dalam usia sekitar 55 tahun. Setidaknya ada dua faktor yang ada pada sufisme, sehingga al-Ghazali tertarik untuk melaksanakannya
[5]. Pertama, karena sufisme memiliki dua aspek esensial: teori dan praktek (ilmu dan amal). Seorang sufi tidak hanya mengerti apa arti hidup zuhud (asketis), tetapi dua betul-betul melaksanakan apa yang dimaksud dengan zuhud tersebut dalam kehidupannya. Hal ini berbeda dengan ketiga golongan yang ditelitinya: ahli kalam, filsuf, dan bathiniyyah, karena ketiga golongan itu hanya mengutamakan salah satu aspek saja, yaitu dari aspek teoritis belaka. Kedua, karena sufisme menawarkan suatu jenis pengetahuan yang langsng diterima oleh Allah bagi siapa saja yang melaksanakannya. Dengan daya tarik itu, al-Ghazali betul-betul berusaha melaksanakan kehidupan sufi secara nyata, setelah menguasai pengetahuan sufisme secara mendalam. Ia menjadi sufi yang berhasil. Ia sungguh-sungguh mengalami Allah yang bersabda dan memberikan pengetahuan yang menurutnya tak terhitung banyaknya. Imam al-Ghazali dalam karyanya al-Munidz min adh-Dhalal mengatakan: “Banyak sekali rahasia dan misteri telah diungkapkan kepadaku dalam pengasingan dan penyendirianku (khalwat) bersama Allah.[6]” Keberhasilan sufi sendiri bukanlah melulu kehendak manusia. Al-Ghazali sendiri berkata bahwa Tuhanlah yang menciptakan perbuatan manusia dan daya untuk berbuat dalam diri manusia[7]. Jadi, sufisme di sini juga menjadi suatu bentuk tanggapan akan daya Allah yang mendorong manusia untuk semakin dekat denganNya dan dengan demikian, manusia mendapatkan pengetahuan dari Allah yang lebih sempurna yang lebih sempurna.
Sekalipun al-Ghazali menganggap sufisme sebagai jalan yang terbaik menuju Allah, namun dia tetap selektif terhadap berbagai aliran atau pun konsepsi sufisme yang ada pada masanya. Ia berusaha menciptakan sufisme murni yang dijalankan secara benar serta mengkritik sufi-sufi yang ‘tertipu’ (mughtarrin) dalam kehidupan sufi mereka. Sufisme yang ditawarkan oleh al-Ghazali sebagai suatu metode dalam teologinya juga merupakan hasil seleksi yang kritis terhadap berbagai ajaran dan praktek sufisme yang ada disertai dengan kajian yang mendalam dan hasil pengalaman al-Ghazali sendiri yang membuahkan hasil seperti yang diharapkannya. Yang menarik di sini adalah mengapa al-Ghazali memerlukan sufisme sebagai salah satu metodenya dalam berteologi.

III. Suluk sebagai Sebuah Metode Teologi Al-Ghazali
Sufisme, sebagaimana diakui oleh al-Ghazali mempunyai aspek teoritis dan praktis. Obyek-obyek kepercayaan, yaitu masalah ketuhanan, kenabian, dan hari akhirat, dibahas juga dalam teologinya agar orang yang mengetahuinya dapat menyakini dan membenarkannya tanpa ragu-ragu. Kalam dan sufisme memiliki keterkaitan yang erat dalam pembahasan teologinya. Di sinilah letak keunikan teologi al-Ghazali, yaitu keterkaitan teologi dan sufisme. Hanya saja, al-Ghazali tidak puas dengan keyakinan yang diperoleh dari argumen-argumen kalam yang mengandalkan rasio dalam memberikan pengetahuan yang meyakinkan tentang kebenaran. Baginya, argumen kalam yang bisa membawa keyakinan terhadap orang-orang tertentu itu tidak tahan uji. Dari pernyataan tersebut, sebenarnya al-Ghazali juga mengakui kelemahan akal (rasio) dalam merambah tuntas metafisika.
Al-Ghazali mendapatkan pengetahuan yang bisa meyakinkannya sebagaimana yang didambakannya itu melalui kehidupan sebagai sufi. Jadi, bagi al-Ghazali, status sufisme (teoritis dan praktis) dalam teologinya tidak berbeda dengan logika (filsafat), yaitu sebagai alat atau metode untuk memberikan pengetahuan yang meyakinkan mengenai kebenaran, sebagaimana nampak dalam pola strukur teologinya. Di sinilah keterkaitan sufisme dalam teologi al-Ghazali. Hal inilah yang membuat teologinya unik, sekaligus menjadi suatu yang unik di antara aliran-aliran sufisme yang ada di islam
[8].
Sesuai dengan kadar keterkaitan sufisme al-Ghazali dengan teologinya, maka akan ditekankan pada bagian yang menunjukkan kepada semacam metode yang bisa menghasilkan pengetahuan yang meyakinkan akan kebenaran materi akidah islam, sebagaimana yang diharapkan pada setiap teologi. Metode tersebut disebut ‘suluk’ (perjalanan) yang selengkapnya disebut suluk thariq Allah ta ala (menapaki jalan Allah ta’ala). Konsep Suluk dalam al-Ghazali dijelakskan dengan cara mensejajarkannya dengan setiap komponen dalam pendidikan formal, yaitu: tujuan, murid (salik), pendidik (al-syaikh (anutan) atau al-ustadz (guru)), alat (terutama Zawiyah), dan kegiatan.
Jika diperhatikan, golongan sufi tersebut begitu khusus dan suluknya tidak bisa dilaksanakan kecuali oleh orang-orang tertentu yang mempunyai potensi dan tekat kuat untuk itu. Al-Ghazali menghargai kebebasan individu untuk melakukannya, sehingga dia tidak mewajibkan semua muslim harus melalui sufisme untuk bisa menjadi muslim sejati. Sufisme hanya ditawarkan bagi orang-orang yang ingin meningkatkan iman mereka dengan ma’rifah yang meyakinkan.

IV. Buah Sufisme al-Ghazali bagi Teologi

Beberapa orang menyangsikan bahwa al-Ghazali adalah seorang sufi. Alasannya ialah, walaupun dia filsuf mistik yang besar, masih disangsikan apakah dia sendiri seorang mistik dalam arti kata telah mendapatkan kesadaran mistik, walaupun kita tak dapat dengan pasti menentukan bahwa dia mengikuti perkembangannya
[9]. Namun bagaimanapun juga, al-Ghazali mengaku kalau dia merupakan seorang sufi sufi dan dengan jalan menjadi sufi, al-Ghazali mengaku memperoleh keyakinan sampai ke tingkat keyakinan akan kebenaran yang bersifat matematis. Adanya keyakinan itu disebabkan karena adanya pengetahuan, yang dalam konsepsi al-Ghazali disebut: (a) Ilmu “mukasyafah” (karena diperoleh melalui ‘terbukanya’ hijab antara hati dan Luh Mahfuzh; (b) Ilmu “musyahadah” (karena diperoleh melalui penyaksian langsung dengan mata hati atau bashirah terhadap Luh Mahfuzh, sebagai sumber pengetahuan); (c) ilmu “al-bathin” (karena pengetahuan itu diperoleh melalui batin bukan lahir); (d) “al-ma’rifah” (karena pengetahuan ini diterima langsung dari Allah tanpa belajar, dan dengan itu orang mengalami pengenalan hakiki mengenai Allah); (e) “nur-ilahi” (karena berupa sinar pengetahuan Tuhan yang dicampakan-Nya ke dalam hati orang yang dikehendaki-Nya. (f) “al-ilm al-khafi” (karena pengetahuan ini harus disembunyikan oleh orang-orang yang memperolehnya, kecuali terhadap orang yang juga mendapatkannya)[10]. Menurut al-Ghazali, jenis pengetahuan ini diperoleh selama suluk. Si salik memperoleh ma’rifah tersebut sejak permulaan suluk sampai ke ujungnya. Dalam al-Ihya, al-Ghazali menjelaskan materi-materi ma’rifah yang bisa diperoleh sufi, antara lain: tentang Dzat Allah, sifat-sifat-Nya, dan af’al-Nya tentang ketentuan Allah terhadap dunia dan akhirat, tentang arti kenabian dan nabi, arti wahyu dan malaikat, tentang bentuk permusuhan setan dan manusia, cara malaikat menampakan diri dan menyampaikan wahyu kepada para nabi, arti bertemu dengan Allah dan dekat dengan-Nya, tentang perbedaan tingkat ahli sorga, neraka, azab kubur, dan sebagainya[11]. Ma’rifah yang diperoleh sufi bersifat individual sehingga wujud dan kualitasnya berbeda-beda. Dengan demikian, ma’rifah juga hanya bermanfaat bagi orang yang memperolehnya, yaitu bisa meningkatkan keyakinan terhadap kebenaran akidah bagi orang yang memperolehnya. Seorang sufi berusaha keras membersihkan diri dari segala noda dan dosa, dan membuatnya bersinar dengan segala sifat terpuji lahir batin, serta selalu mengkonsentrasikan hatinya agar hatinya tertuju hanya kepada Allah, hingga pada akhrinya Tuhan memberikan anugerah berupa ma’rifah ke dalam hatinya; dan bisa pula berupa syuhud batinnya yang tidak melihat lagi adanya wujud selain wujud Allah yang Mahaesa.
Al-Ghazali dengan seluruh konsepnya menjadikan teologinya berbeda dengan teologi para teolog yang lain. Dengan keterikatan ma’rifah dalam konsep al-Ghazali dengan amal (ibadah) dalam suluk sebagai metode untuk menghasilkannya, maka konsepsi ma’rifah al-Ghazali sangat berbeda dari konsepsi ma’rifah Abu Yazid al-Bisthami yang menganggap ketekunan dalam ibadah sebagai pertanda tidak layaknya orang memperoleh ma’rifah dari Tuhan. Karena ini pula konsep ma’rifah al-Ghazali berbeda dengan ilham karena melimpahnya pengetahuan dikarenakan adanya sambungan antara akal manusia dengan Akal Aktif setelah si filsuf berpikir dan berkontemplasi.

V. Refleksi
Al-Ghazali adalah tokoh Islam yang berani untuk mencari kebenaran dan memperjuangkannya secara sungguh-sungguh. Selain pemberani, ia memiliki komitmen yang kuat atas kebenaran yang diyakininya sehingga ia pun mampu mendobrak kemapanan iman yang rapuh dan belum matang. Ia menjadi teladan bagi orang-orang pada zamannya dan juga pada zaman ini untuk terus menerus mencari Allah yang misteri dan tak akan pernah terselami secara utuh. Pencarian akan Allah berujung pada pengetahuan yang benar yang akan mengantar kepada kebahagiaan dan kedamaian serta persatuan dengan Allah yang Maha Esa.

Kebenaran yang diperjuangkan al-Ghazali secara sungguh-sungguh merupakan kebenaran yang berdasar akan pengetahuan yang telah diperolehnya. Maka, kita pun dapat belajar bahwa untuk mencapai pengetahuan yang sempurna seseorang harus mau belajar dari ilmu-ilmu yang berkembang dengan tidak menerimanya begitu saja tetapi sungguh menempatkanya pada iman pada Allah dan keinginan untuk mencapai kebenaran yang tertinggi.

VI. Daftar Pustaka

Harun Nasution,
1972 Teologi Islam: Aliran-Aliran Sejarah Analisa Pebandungan, Penerbit Universitas Indonesia: Jakarta
Ma’ruf al-Payamani,
1992 Islam dan Kebatinan, Ramadhani: Solo
Mir Valiuddin,
1996 Zikir dan Kontemplasi dalam Tasawuf diterjemahkan dari Contemlpative Disciplines in Sufism terbitan East-West Publications London 1980, Pustaka Hidayah: Bandung
Zurhani Jahja,
1996 Teologi Al-Ghazali, Pustaka Pelajar: Yogyakarta
Zainal Abidin Ahmad, 1975 Riwayat Hidup Imam al-Ghazali, Bulan Bintang: Jakarta

[1] Zurhani Jahja, Teologi Al-Ghazali, Pustaka Pelajar: Yogyakarta, 1996, 17.[2] Zurhani Jahja, Teologi Al-Ghazali, 211.[3] Ma’ruf al-Payamani, Islam dan Kebatinan, Ramadhani: Solo 1992, 22.[4] Mir Valiuddin, Zikir dan Kontemplasi dalam Tasawuf diterjemahkan dari Contemlpative Disciplines in Sufism terbitan East-West Publications London 1980, Pustaka Hidayah: Bandung 1996, 38.[5] Zurhani Jahja, Teologi Al-Ghazali, 212.[6] Mir Valiuddin, Zikir dan Kontemplasi dalam Tasawuf (terj.), 26.[7] Harun Nasution, Teologi Islam: Aliran-Aliran Sejarah Analisa Pebandungan, Penerbit Universitas Indonesia: Jakarta 1972, 111.[8] Zurhani Jahja, Teologi Al-Ghazali, 218.[9] Zainal Abidin Ahmad, Riwayat Hidup Imam al-Ghazali, Bulan Bintang: Jakarta 1975, 105.[10] Zurhani Jahja, Teologi Al-Ghazali, 240.[11] Zurhani Jahja, Teologi Al-Ghazali, 241.
Al Ghazali, Sufisme, dan Teologi Al Ghazali, Sufisme, dan Teologi Reviewed by Afrianto Budi on Jumat, Mei 25, 2012 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Terimakasih Anda sudah mengunjungi blog ini

Diberdayakan oleh Blogger.